Sigi-Detiksatu.id-Aksi pembongkaran batu gajah di Desa Tulo, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, kembali menuai kecaman. Wakil Sekretaris Jenderal PP GP Ansor, Moh. Syarif Latadano, mengecam keras tindakan oknum tidak bertanggung jawab yang merusak batu gajah, struktur penting penahan banjir dan abrasi sungai. Syarif menilai aksi ini sebagai bentuk arogansi yang mengabaikan peringatan pemerintah daerah dan merugikan masyarakat.
“Infonya baru saja, mereka melanjutkan pembongkaran batu gajah, padahal Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sigi sudah melaporkan kejadian ini secara tertulis ke Balai Wilayah Sungai (BWS) Provinsi,” ungkap Syarif, Sabtu (8/3/2025) sore.
Menurutnya, tiga malam sebelumnya, Kepala Desa Tulo telah mengumumkan di masjid larangan keras terhadap aktivitas penambangan tersebut. Namun, para pelaku tetap nekat beroperasi.

“Mereka berdalih menambang pasir, tapi justru batu gajah yang dirusak. Apa mereka pikir DPRD Sigi tak punya kemampuan untuk menegur? Warga Tulo pasti marah karena kebun pisangnya dilindas tanpa izin,” tegas Syarif.
Syarif mendesak Balai Wilayah Sungai (BWS) Wilayah III Sulawesi Tengah dan aparat kepolisian untuk segera bertindak. “Apa sulitnya bagi pihak berwenang untuk menegakkan hukum? Jika pelaku mengklaim memiliki izin, periksa dulu kebenarannya. Polisi pasti lebih tahu soal itu,” tambahnya.
Batu gajah yang dirusak bukan sekadar tumpukan batu biasa, melainkan bagian dari proyek penanggulangan bencana senilai ratusan miliar rupiah. Batu-batu tersebut disusun di sepanjang Sungai Palu, dari Kalukubula hingga Pakuli, untuk mencegah abrasi dan banjir. “Jika batu gajah ini dibongkar, dampaknya sangat berbahaya bagi warga. Dulu, saat saya masih sekolah di SMP Dolo tahun 1993, banjir bisa sampai ke rumah-rumah karena belum ada batu gajah sebagai penghalang. Jangan sampai sejarah kelam itu terulang lagi,” tegas Syarif.
Sebelumnya, Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae, telah memerintahkan Kepala Desa Tulo untuk menghentikan aktivitas tersebut karena berpotensi merusak lingkungan, menyebabkan abrasi sungai, hilangnya lahan pertanian, serta mengancam keselamatan warga akibat potensi banjir.
Kepala Desa Tulo yang dihubungi media ini menyatakan akan segera menemui Bupati Sigi untuk menyampaikan laporan terkait situasi di lapangan. Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sigi, Moh. Afit Lamakarate, melalui pesan WhatsApp mengatakan bahwa pihaknya sedang menindaklanjuti laporan tersebut. “Anggota saya sementara suruh cek perizinannya. Terima kasih atas informasinya,” tulis Afit.
Dengan kondisi yang semakin meresahkan, warga dan tokoh masyarakat mendesak aparat berwenang untuk segera mengambil tindakan tegas sebelum dampak lingkungan dan sosial semakin parah.


















