Jakarta, – Berdasarkan kajian dari berbagai literatur lintas keyakinan mulai dari ajaran Hindu, Buddha, Islam, hingga kisah dalam kitab Taurat dan Zabur terdapat sebuah benang merah mengenai keberadaan suatu wilayah yang diberkati. Dalam berbagai riwayat, tempat ini digambarkan sebagai bumi yang sangat subur dengan sumber mata air melimpah, kekayaan alam yang tak terhingga, serta diyakini sebagai tempat bermukimnya para entitas surgawi atau Maha Dewa.
Dalam tradisi yang berkaitan dengan kisah Nabi Sulaiman (Solomon), wilayah tersebut disebut sebagai tanah yang diutus Tuhan. Menariknya, terdapat penyebutan tentang sosok “Manusia Beribu Wajah” yang dalam literatur tertentu dikaitkan dengan perwujudan Dewa Brahma, yang kemudian dalam asimilasi budaya lokal dikenal dengan nama Sultan Brahma.
Kaitan geografis ini juga ditemukan dalam wiracarita Ramayana, khususnya saat fragmen peperangan besar antara Rama dan Rahwana. Alkisah, kesaktian Rahwana membuatnya sulit dikalahkan karena tubuhnya dapat menyatu kembali. Satu-satunya cara untuk menumbangkannya adalah dengan memisahkan bagian tubuhnya dan membuang kepala Rahwana ke sebuah tempat bernama Pulau Mahadewa. Pulau ini diyakini sebagai tanah suci yang dihuni oleh para dewa utusan Tuhan yang mewujud dalam rupa manusia.
Keselarasan narasi dari berbagai sumber kuno ini memberikan gambaran tentang sebuah “Tanah Terjanji” atau wilayah sakral yang memiliki nilai spiritual tinggi dalam sejarah peradaban manusia di masa lalu.
Dalam Sejarah Buku Sejarah Indonesia, Penemuan Para Ahli, Daerah Indonesia sempat Ditemukan Jenis Tulang Pithecanthropus adalah istilah kuno untuk kelompok manusia purba yang ditemukan di Indonesia, terutama Pithecanthropus erectus (Manusia Kera Berdiri Tegak), yang merupakan salah satu bentuk awal dari Homo erectus, ditemukan oleh Eugène Dubois di Trinil. spesies ini menjadi bukti penting evolusi manusia dengan ciri fisik gabungan antara kera dan manusia, hidup di era Pleistosen, dan dianggap sebagai nenek moyang Homo sapiens, dengan jenis lain termasuk Pithecanthropus mojokertensis dan Pithecanthropus soloensis.
Dalam catatan sejarah paleoantropologi, Indonesia memegang peranan krusial berkat penemuan fosil manusia purba jenis Pithecanthropus. Istilah ini merujuk pada kelompok manusia kera yang pernah mendiami wilayah Nusantara pada masa Pleistosen.
Penemuan paling fenomenal dilakukan oleh peneliti asal Belanda, Eugène Dubois, di wilayah Trinil, Jawa Timur. Ia menemukan spesies Pithecanthropus erectus atau “Manusia Kera yang Berdiri Tegak”. Temuan ini menjadi bukti ilmiah penting mengenai evolusi manusia, karena memiliki ciri fisik transisi yang menggabungkan karakteristik kera dan manusia modern.
Hingga saat ini, Pithecanthropus erectus diklasifikasikan sebagai bagian dari kelompok Homo erectus yang dianggap sebagai nenek moyang Homo sapiens. Selain di Trinil, para ahli juga mengidentifikasi jenis lainnya di Indonesia, seperti Pithecanthropus mojokertensis yang ditemukan di Mojokerto dan Pithecanthropus soloensis yang ditemukan di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo.
Penemuan-penemuan ini mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu lokasi pusat penelitian manusia purba di dunia.
Ciri-ciri Utama:
Nama: Berasal dari bahasa Yunani (pithecos = kera, anthropus = manusia) dan Latin (erectus = tegak).
Penemuan: Fosil pertamanya ditemukan di Trinil, Jawa Timur, pada tahun 1891 oleh Eugène Dubois, yang kemudian dikenal sebagai Manusia Jawa.
Jenis: Terdapat beberapa jenis, seperti P. erectus, P. mojokertensis (ditemukan di Mojokerto, Jawa Timur), dan P. soloensis (ditemukan di Lembah Bengawan Solo).
Periode Hidup: Diperkirakan hidup antara 1,8 juta hingga 500.000 tahun lalu (era Pleistosen).
Ciri Fisik: Badan hampir tegak, dahi menonjol, rahang kuat, tidak memiliki dagu, dan volume otak terbatas (750-1300 cc), tetapi sudah berjalan tegak.
Pola Hidup: Hidup berpindah-pindah (nomaden), hidup berkelompok kecil, berburu daging, dan menggunakan alat batu sederhana seperti kapak perimbas.
Signifikansi: Penemuan ini merupakan tonggak penting dalam studi evolusi manusia, menunjukkan tahap transisi antara kera dan manusia modern, serta menempatkan Nusantara sebagai pusat penting dalam studi evolusi manu
Sejarah “bumi Indonesia pertama” dimulai dengan pembentukan geologisnya dari tumbukan lempeng tektonik (Indo-Australia, Eurasia, Pasifik) jutaan tahun lalu, yang menciptakan kepulauan dan gunung berapi, serta migrasi manusia purba seperti Homo erectus (Manusia Jawa) 1,5-1,7 juta tahun lalu, diikuti Homo floresiensis, hingga akhirnya Homo sapiens tiba dengan keahlian maritim setelah Zaman Es berakhir dan menenggelamkan daratan Sundaland, membentuk kepulauan modern.
1. Pembentukan Geologis (Jutaan Tahun Lalu)
Pergerakan Lempeng: Indonesia terbentuk akibat pertemuan tiga lempeng utama (Indo-Australia, Eurasia, Pasifik), menciptakan zona vulkanik aktif dan pegunungan tinggi seperti “Cincin Api”.
Sundaland: Sebelum Zaman Es, Jawa, Sumatra, dan Kalimantan masih menyatu sebagai bagian dari daratan Asia (Sundaland), memungkinkan Homo erectus berjalan kaki dari Vietnam hingga Nusa Tenggara Timur (Flores).
Zaman Es & Kenaikan Air Laut: Berakhirnya Zaman Es menyebabkan naiknya permukaan air laut, menenggelamkan Sundaland, dan memisahkan Jawa, Kalimantan, serta Sumatra menjadi pulau-pulau yang kita kenal sekarang.
2. Kedatangan Manusia Purba Pertama
Homo erectus (Manusia Jawa): Penduduk pertama yang tercatat, hidup sekitar 1,5-1,7 juta tahun lalu, mereka bermigrasi dari Afrika dan mendiami Nusantara saat masih menyatu dengan benua Asia.
Homo floresiensis (Manusia Kerdil): Ditemukan di Pulau Flores, spesies unik ini hidup pada periode yang sama atau setelah Homo erectus.
Homo sapiens (Manusia Modern): Gelombang migrasi berikutnya datang saat kepulauan sudah mulai terbentuk, menunjukkan keahlian maritim dan menjadi leluhur berbagai suku bangsa asli Indonesia, termasuk yang berkulit gelap (Melanesia/Australoid) seperti suku-suku di Papua.
3. Garis Waktu Singkat
1,8 Juta Tahun Lalu: Homo erectus tiba di Nusantara saat daratan masih tersambung (Sundaland).
Akhir Zaman Es: Naiknya air laut memisahkan pulau-pulau, menciptakan Nusantara modern.
Migrasi Homo sapiens: Kedatangan manusia modern awal yang ahli navigasi, menandai awal kebudayaan pemburu-pengumpul (Toala di Sulawesi).
Jadi, sejarah “bumi Indonesia pertama” mencakup proses geologis pembentukan pulau dan kehadiran manusia purba yang terjadi secara bertahap selama jutaan tahun, jauh sebelum ada bangsa Indonesia seperti sekarang.
Berbagai Wajah berbeda, dan wujud Benda Purbakala, Kerajaan dan Kepercayaan Para Dewa, Kepercayaan Kasat Mata Kerajaan Halus yang masih dipercaya oleh Kalangan Indigo, Paranormal dan Metafisik.
Berbagai Kepercayaan Yang Bermunculan Pandangan” Orang Pintar”
1. PENGANUT KEPERCAYAAN HINDU BUDHA
Kepercayaan mereka menganggap Bumi Nusantara Dianut Turunan Maha Dewa Brahma, Wisnu dan Siwa, dengan Nama Penguasa Pertama, Sultan Brahma, Siwa dan Wisnu, dengan membuat Kerajaan kerajaan Berbentuk Candi Candi, dan cikal bakal pertama Kerajaan Tertua di Kutai.
Dalam Pandangan Kaum Ini, Nama Kudunggu, bagian Cucu Berabat-abat dari Turunan Maha Dewa, Brahma, Siwa dan Wisnu, sehingga muncul Nama Aswawarman, Mulawarwan, dan lain sebagainya hingga muncul dalam sejarah Darmawangsa, Airlangga dan lain sebagainya.
Ditarik lagi, Kisah Dengan Nama Sultan Agung, Pemberian dari Turunan Para Mahadewa hidup Dibumi Nusantara.
Misalnya , Nama Kartika dan Partika diambil Dari Anak Dari Prabu Dewa Wisnu, atau Burung Yang Ditunggangi Dewa Wisnu, kalau Burung Perempuan dinamakan Burung Kartika dan Laki laki Partika.
Belakangan Istilah itu, kalangan Ahli Metafisik berpandangan Istilah itu digunakan untuk Anak anak Mahadewa, Untuk Putri diberi nama Kartika dan Laki laki Partika.
Dan Semua Turunannya menggunakan dari awal Menggunakan Kartika, Misalnya Perempuan bernama Kartika Dewi, Dan Laki laki Bernama Agung Partika.
2. TEORI KEDUA, MANUSIA PURBA
Para Ahli Lain Menyebut , Keberadaan Manusia pertama dari Manusia Purbakala berbentuk Pitekan Erektus Berbentuk Kera, hampir sama Pendapat Teori Darwin Bahwa Manusia Berasal dari Kera, kelompok ini disebut TEORI MELENESIA.
3. PANDANGAN MILITAN YUNANI
Pandangan Ini Berbeda lagi , Kelompok Di Manusia Bumi Nusantara, Berasal Dari Dewa Seun, Nusantara Bagian dari Kerajaan Pasifik, Bukti Sejarah Adanya Kerajaan Dibawah Dasar Sungai Baik di laut dan Sungai. Bukti lain diklaim Tulisan Sansekerta Berasal Dari Yunani.
4. PANDANGAN LAIN MANUSIA ” Indo dan Melanesia
Kedatangan Manusia Di Bumi Nusantara dari Kalangan Manusia Pelaut ” Nenek Moyang Sang Pelaut” Terdampar di pulau Nusantara.
Hingga Beragam Wujud Wajah, diantaranya :
a. Berwajah Gujarat Arab
b. Berwajah India
c. Berwajah Mongol
d.Berwajah Cina
e. Berwajah Portugis, Belanda dan Jepang.
5. PANDANGAN MANUSIA PRIBUMI SIAPA?
Ada menyimpulkan keberadaan manusia pribumi dari kaum menalesia, berwajah hitam atau trah Afrika atau Papua, atau Sejarah terbentuknya bumi Nusantara merupakan jalinan kompleks antara proses geologis jutaan tahun, temuan arkeologis manusia purba, hingga beragam sudut pandang spiritual yang diyakini oleh masyarakat. Hingga tahun 2026, perdebatan mengenai siapa “penghuni pertama” Indonesia sejati masih menjadi topik yang memikat, memadukan sains modern dengan narasi metafisika.
1. Fondasi Ilmiah: Pembentukan Geologis dan Manusia Purba
Secara saintifik, sejarah Indonesia dimulai dari tumbukan tiga lempeng tektonik utama—Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik—yang menciptakan gugusan kepulauan vulkanik. Sebelum zaman es berakhir, wilayah barat Indonesia yang dikenal sebagai Sundaland menyatu dengan benua Asia.
Kondisi geografis ini memungkinkan migrasi manusia purba pertama, yakni Pithecanthropus erectus (Manusia Jawa), yang ditemukan oleh Eugène Dubois di Trinil pada 1891. Spesies ini diperkirakan hidup 1,8 juta hingga 500.000 tahun lalu. Disusul kemudian oleh temuan Homo floresiensis di Flores dan migrasi Homo sapiens yang memiliki kemampuan maritim mumpuni.
2. Spektrum Kepercayaan: Dari Titisan Dewa hingga Peradaban Gaib
Di luar catatan sejarah formal, terdapat berbagai perspektif yang dipercayai oleh kalangan “orang pintar”, ahli metafisika, dan penganut kepercayaan tertentu:
Perspektif Hindu-Buddha & Trah Mahadewa: Sebagian kalangan meyakini Nusantara didirikan oleh keturunan Mahadewa (Brahma, Wisnu, Siwa). Dalam pandangan ini, tokoh sejarah seperti Kudungga dari Kerajaan Kutai dianggap sebagai bagian dari silsilah keturunan surgawi. Istilah seperti “Kartika” (untuk putri) dan “Partika” (untuk putra) diyakini merujuk pada simbolisme kendaraan atau anak dari para dewa.
Teori Melanesia & Evolusi: Kelompok ini menitikberatkan pada kesamaan fisik dan genetika, merujuk pada teori evolusi yang menempatkan ras Melanesia sebagai penghuni awal yang menguasai alam Nusantara sebelum kedatangan ras lain.
Teori Koneksi Yunani & Pasifik: Muncul pula pandangan militan yang mengaitkan Nusantara dengan peradaban kuno selevel Atlantis atau kerajaan Pasifik bawah laut. Klaim ini sering kali didukung dengan interpretasi bahwa tulisan Sanskerta memiliki akar koneksi dengan peradaban Yunani kuno.
Akulturasi “Nenek Moyang Pelaut”: Pandangan ini melihat Indonesia sebagai titik lebur dunia. Kehadiran beragam wajah—mulai dari ciri fisik Gujarat, India, Mongol, Tiongkok, hingga Eropa (Portugis/Belanda)—merupakan hasil dari gelombang migrasi manusia pelaut yang terdampar dan menetap di kepulauan ini.
3. Eksistensi Alam Metafisika (Kejawen)
Dalam tradisi Kejawen dan pandangan indigo, sejarah Nusantara tidak hanya terbatas pada benda mati atau fosil. Mereka meyakini adanya “kerajaan halus” yang eksis secara paralel di perut bumi Nusantara. Kepercayaan ini menyimpulkan bahwa selain penghuni fisik, ada peradaban tak kasat mata yang telah menjaga tanah ini sejak masa penciptaan.
Kesimpulan: Mozaik Sejarah yang Belum Usai
Beragamnya teori ini menunjukkan bahwa identitas Indonesia tidaklah tunggal. Antara bukti fosil Pithecanthropus, silsilah kerajaan kuno, hingga klaim metafisika, semuanya membentuk kekayaan budaya yang unik.
Pada akhirnya, sejarah “bumi Indonesia pertama” adalah sebuah mozaik besar. Sebagaimana ungkapan bijak, kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Sang Pencipta, sementara manusia terus berupaya merangkai kepingan-kepingan masa lalu untuk memahami jati diri bangsanya.
Goresan : R.Mas MH Agus Rugiarto SH


















